15 Januari 2026
Humas
5
Di era serba cepat, belajar masak sering direduksi jadi satu hal: buka YouTube, ikuti langkah, selesai. Potongan video 5–10 menit seolah menjanjikan keahlian instan. Tinggal pause, replay, lalu tiru. Tapi realitanya, dapur profesional nggak bekerja seperti algoritma.
Di dapur sungguhan, api punya karakter. Bahan punya respon yang berbeda-beda. Pisau perlu kontrol. Waktu perlu kepekaan. Hal-hal ini nggak bisa ditangkap hanya dari visual. Kamu harus berdiri di sana, salah bumbu, gosong, ditegur, dan mengulang.
Tutorial YouTube memang berguna. Ia membuka wawasan, memberi referensi, bahkan bisa jadi pintu masuk. Tapi ia berhenti di permukaan. Ia tidak mengajarkan tekanan kerja, konsistensi rasa, manajemen waktu, atau tanggung jawab saat satu kesalahan kecil bisa merusak satu service penuh.
Bagi yang ingin naik level—menjadi koki atau profesional cook—yang dibutuhkan adalah latihan berulang, disiplin, dan pengalaman langsung. Belajar membaca api, bukan hanya melihatnya. Belajar mencicipi, bukan sekadar menakar. Belajar bekerja dalam ritme dapur, bukan tempo video.
Masak itu proses fisik dan mental. Tangan belajar lewat luka kecil. Indra diasah lewat kegagalan. Mental ditempa lewat kritik. Semua itu tidak bisa di-skip.
Jadi, kalau hari ini kamu merasa “sudah bisa masak” karena mengikuti tutorial, itu langkah awal, bukan garis akhir. Dunia kuliner profesional menuntut lebih dari sekadar bisa. Ia menuntut paham, tahan, dan konsisten
Karena pada akhirnya, chef sejati lahir dari dapur yang panas dan proses yang panjang.
Daftar sekarang di spmbalhasra.com
15 Januari 2026
Humas
15 Januari 2026
Humas
14 Januari 2026
Humas