14 Januari 2026
Humas
9
Rendang sering disebut sebagai salah satu masakan paling ikonik dari Indonesia. Namun di balik cita rasanya yang kaya dan dalam, rendang bukan sekadar soal bumbu atau resep. Ia adalah tentang proses—dan lebih jauh lagi, tentang kesabaran.
Berbeda dengan banyak hidangan yang bisa selesai dalam hitungan menit, rendang dimasak perlahan selama 4 hingga 6 jam. Proses ini bukan tanpa alasan. Pada tahap awal, daging dimasak bersama santan dan rempah hingga menghasilkan kuah. Seiring waktu, cairan perlahan menyusut, santan pecah menjadi minyak, dan bumbu mulai mengental serta melekat pada daging. Di titik inilah rendang menemukan karakternya.
Memasak rendang tidak bisa terburu-buru. Api yang terlalu besar akan merusak rasa, sementara waktu yang terlalu singkat membuat bumbu belum matang sempurna. Kesabaran menjadi kunci utama agar daging empuk, bumbu matang, dan rasa benar-benar keluar. Inilah yang membedakan rendang dari sekadar daging berbumbu santan.
Di dunia pendidikan kuliner, rendang memiliki nilai pembelajaran yang penting. Ia mengajarkan bahwa memasak bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal memahami proses. Siswa belajar mengendalikan api, membaca perubahan tekstur, aroma, dan warna, serta menghargai waktu sebagai bagian dari resep itu sendiri.
Melalui praktik memasak rendang, siswa tidak hanya menghasilkan sebuah hidangan, tetapi juga membangun sikap profesional di dapur: teliti, sabar, dan bertanggung jawab terhadap proses. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi penting dalam dunia kuliner, baik di dapur tradisional maupun industri profesional.
Pada akhirnya, rendang mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun mendalam: rasa terbaik tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari proses yang dijalani dengan kesabaran dan ketekunan. Prinsip yang berlaku bukan hanya di dapur, tetapi juga dalam perjalanan belajar dan berkarya
15 Januari 2026
Humas
15 Januari 2026
Humas
14 Januari 2026
Humas